Dalam filsafat Yunani, Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan penggerak pertama (Prime Cause), seperti yang dikemukakan Aristoteles. Sementara dalam Islam, Allah adalah Pencipta, yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada (Creito ex Nihilo). Emanasi dalam pemikiran Al-Farabi adalah Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul suatu maujud lain. Tuhan itu adalah Wujud Pertama dan dengan pemikiran itu timbul Wujud Kedua yang juga mempunya substansi. Itu disebut dengan Akal Pertama yang tak bersifat materi. Wujud Kedua ini berpikir tentang Wujud Pertama dan dari pemikiran inilah timbul Wujud Ketiga. Proses ini terus berlangsung hingga pada Wujud X/ Akal Kesepuluh. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama, mengandung dua segi. Pertama segi hakikatnya sendiri (tabi’at, wahiyya) yaitu wujud yang mumkin. Kedua segi lain yaitu wujudnya yang nyata yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai Dzat yang menjadikan. Sekalipun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi obyek pemikirannya.
Dengan
adanya segi-segi ini, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak
dari Akal Pertama. Dari pemikiran Akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud
yang wajib (yang nyata) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya
maka keluarlah Akal Kedua. Dari pemikiran Akal Pertama dalam kedudukannya
sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, timbullah langit pertama atau
benda lanjut terjauh (as-sama al-ula; alal-a’la) dengan jiwanya sama sekali
jiwa langit tersebut. Jadi dari dua obyek pengetahuan yaitu dirinya dan
wujudnya yang mumkin keluarlah dua macam makhluk tersebut yaitu bendanya benda
langit dan jiwanya Dari Akal Kedua timbullah Akal Ketiga dan langit kedua atau
bintang-bintang tetap (al-kawakib ats-tsabitah) beserta jiwa dengan cara yang
sama seperti yang terjadi pada Akal Pertama. Dari Akal Ketiga keluarlah Akal
Keempat dan planet Satumus (Zuhal), juga beserta jiwanya. Dari Akal Keempat
keluarlah Akal Kelima dan planet Yupiter (al-Musytara) beserta jiwanya. Dari
Akal Kelima keluarlah Akal Keenam dan planet Mars (Madiah) beserta jiwanya.
Dari Akal Keenam keluarlah Akal Ketujuh dan matahari (as-Syams) beserta
jiwanya. Dari Akal Ketujuh keluarlah Akal Kedelapan dan planet Venus.
(az-Zuharah) juga beserta jiwanya. Dari Akal Kedelapan keluarlah Akal
Kesembilan dan planet Mercurius (‘Utarid) beserta jiwanya pula. Dari Akal
Kesembilan keluarlah Akal Kesepuluh dan bulan (Qamar). Dengan demikian maka
dari satu akal keluarlah satu akal dan satu planet beserta jiwanya. Dari Akal
Kesepuluh sesuai dengan dua seginya yaitu wajibul-wujud karena Tuhan maka
keluarlah manusia beserta jiwanya. Dan dari segi dirinya yang merupakan wujud
yang mumkin, maka keluarlah empat unsur dengan perantaraan benda-benda langit.
Dan di akal ke X ini dayanya sudah lemah sehingga sudah tidak bisa menghasilkan
akal yang sejenisnya.
Mengapa
jumlah akal dalam teori emanasi dibatasi kepada bilangan sepuluh? Hal ini
disesuaikan dengan bintang yang berjumlah sembilan di mana untuk tiap-tiap
akal diperlukan satu planet pula, kecuali akal pertama yang tidak disertai
satu planet ketika keluar dari Tuhan. Stuktur Emanasi Al Farabi saat itu
dipengaruhi oleh temuan saintis yang pada saat itu jumlah bintang adalah
sembilan, karena jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh.
Kemudian al-Farabi menambah dua lagi yaitu benda yang terjauh (al-falak
al-aqsha) dan bintang-bintang tetap (al-kawakib ats-tsabitah), yang diambil
dari Ptolomey (atau Caldius Ptolomaeus) seorang ahli astronomi dan ahli bumi
Mesir, yang hidup pada pertengahan abad ke-2 Masehi. Sebab itu, maka jumlah
akal ada sepuluh, sembilan diantaranya mengurus benda-benda langit yang
sembilan, dan akal kesepuluh yaitu Bulan mengawasi dan mengurangi kehidupan di
bumi. Akal-akal tidak berbeda, tetapi merupakan pikiran selamanya. Kalau pada
Tuhan yaitu wujud yang pertama, hanya terdapat satu obyek pemikiran yaitu
Dzat-Nya, maka pada akal-akal tersebut terdapat dua obyek pemikiran, yaitu Dzat
yang wajibul-wujud dan diri akal-akal itu sendiri. Al Farabi melalui ajaran
teori emansi ini memecahakan masalah gerak dan perubahan. Beliau menggunakan
teori ini pula ketika memecahakan masalah Yang Esa dan yang banyak dan dalam
memadukan teori materi Aristoteles dengan ajaran Islam tentang penciptaan.
Materi
itu tua, setua teori akal sepuluh, tetapi ia tercipta karena ia memancar dari
akal agen. Untuk mengukuhkan ke-Esaan Tuhan, Al Farabi memilih menengahi akal
sepuluh ini antara Tuhan dan dunia bumi. Beberapa unsur teori emansi dapat
dilacak pada sumber asal mereka yang berbeda-beda. Aspek astronominya identik
sekali dengan penafsiran Aristoteles tentang gerak lingkungan. Teori pemancaran
diperoleh dari Plotinus dan aliran Alexandria, tetapi secara keseluruhan hal
itu merupakan suatu teori Al Farabi yang ditulis dan diformulasikan untuk
menunjukkan kesatuan kebenaran dan metodenya tentang pengelompokan dan
sintesis. Demikianlah Al Farabi memadukan Plato, Aristoteles, filsafat, dan
agama. Sungguh sumbangsih yang luar biasa dan tak ternilai harganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar