UPDATE TERBARU!! : "Jaringan Nirkabel" (Lihat di Menu "Jaringan Komputer")

15 Juni 2015

TEORI EMANASI AL-FARABI (Part 1)

            Tak dapat disangkal, dalam konteks Filsafat Islam, tema mengenai emanasi menjadi salah satu tema yang paling menarik dan ramai dibahas. Emanasi berkaitan dengan bahasan penciptaan. Bahwa penciptaan alam semesta ini tiada lain merupakan pancaran dari Yang Satu. Memang, bahasan tentang penciptaan sejak mula memantik banyak pandangan. Keragaman pandangan tersebut dimulai dari pertanyaan: apakah alam semesta ada karena memang ada dengan sendirinya, ataukah alam semesta ada karena diadakan. Pertanyaan pun berlanjut pada: kalaulah alam semesta ada karena diadakan, bagaimana proses penciptaan alam semesta itu sendiri. Dan teori emanasi termasuk teori yang muncul oleh pertanyaan menarik tersebut.

            Di dalam bahasa Inggris, kata emanasi disebut emanation yang berarti proses munculnya sesuatu dari pemancaran; bahwa yang dipancarkan substansinya sama dengan yang memancarkan. Sedangkan dalam filsafat, emanasi adalah proses terjadinya wujud yang beraneka ragam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu yakni Tuhan, yang menjadi sebab dari segala yang ada, karenanya setiap wujud ini merupakan bagian dari Tuhan. Al-Farabi, yang bernama lengkap Abu Muhammad ibn Muhammad IbnTarkhan ibn Auzalagh (870-950 M), bukan orang pertama penasbih teori emanasi.

            Sebelum Al-Farabi masih ada Plotinus (204-270 M), salah satu filosof Barat yang pemikiran filsafatnya kelak berpengaruh kepada para filosof Muslim. Diantara filsafatnya, satu diantaranya adalah tentang penciptaan. Plotinus berpendapat bahwa Yang Esa adalah Yang Paling Awal, sebab pertama. Dari sinilah mulai dikenal teori penciptaan yang kelak diketahui bernama teori emanasi, suatu teori penciptaan yang belum pernah diajukan oleh para filosof lain.

            Tujuan utama teori ini adalah untuk menjelaskan bahwa yang banyak (makhluk) ini tidak menimbulkan pengertian bahwa di dalam Yang Esa ada pengertian yang banyak. Maksudnya, teori emanasi tidak menimbulkan pengertian bahwa Tuhan itu sebanyak makhluk. Menurut Plotinus, alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi. Emanasi itu berlangsung tidak di dalam waktu. Emanasi itu laksana cahaya yang beremanasi dari matahari. Dengan beremanasi itu Yang Esatidak mengalami perubahan. Emanasi itu terjadi tidak di dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam proses emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjaadikan alam, Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekekalannya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energinya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam, waktu bergerak terus sehingga menghasilkan waktu lalu, sekarang dan yang akan datang. Selain Ibn Sina, Ibn Maskawaih, dan Ikhwan Ash-Shafa’, Al-Farabi berada di jajaran filsosof Muslim yang terkenal kuat pemikirannya mengenai teori emanasi. Al-Farabi setuju dengan teori emanasi yang menetapkan bahwa alam ini baharu, yang merupakan hasil pancaran. Al-Farabi menyebut teori emanasi sebagai Nadhariyatul Faidl. Dengan teori emanasi inilah al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Satu. Bagaimana yang banyak (alam) yang bersifat materi muncul dari Yang Esa (Allah) yang jauh dari arti materi dan Maha Sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar