UPDATE TERBARU!! : "Jaringan Nirkabel" (Lihat di Menu "Jaringan Komputer")

15 Juni 2015

PENDEKATAN STUDI ISLAM (PART 2)

 6.      Pendekatan filosofis

Kata filosofis berasal dari kata filsafat, dari Bahasa Yunani yaitu ”pilos” yang artinya cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada (Galzaba, 1973).

Menurut Purwadarmita (1999), filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenal sebab-sebab, asas-asas hukum dsb terhadap sesuatu yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu. Dari pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan filosofis (arti sematik) merupakan studi proses tentang kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam menurut konsep cinta terhadap kebenaran, ilmu dan hikmah yang bersumber dari Al Quran dan Hadist.

Pendekatan filosofis (arti praktis) adalah suatu pendekatan yang penilaiannya berdasarkan akal (rasional). Ukuran benar dan salahnya ditentukan dengan penilaian akal, apakah bisa diterima oleh akal atau tidak.

7.      Pendekatan historis (sejarah)

Historis adalah suatu ilmu yang membahas berbagai peristiwa dengan menggunakan unsur-unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan perilaku dari peristiwa tersebut. Pendekatan historis adalah salah satu upaya memahami agama dengan menumbuhkan perenungan untuk memperoleh hikmah dengan cara mempelajari sejarah nilai-nilai Islam yang berisikan kisah dan perumpamaan.

Al Quran terdiri dari dua bagian yaitu tentang konsep-konsep dan kisah sejarah perumpamaan. Dari sejarah perumpamaan inilah seseorang bisa mengambil hikmah.

8.      Pendekatan politis

Teori politik normatif adalah cara untuk membahas lembaga sosial, khususnya berhubungan dengan kekuasaan publik, dan tentang hubungan antar individu di dalam lembaga politik disebut juga sebagai moral/etika.

Perlawanan menghadapi penjajah merupakan pergerakan politik Islam yang kemudian menjadi pembentukan negara Indonesia.

Pendekatan politis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial agar timbul motivasi/keinginan untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat.

Pendekatan politis dibagi menjadi lima, yaitu:

a.       Pendekatan politis dekonfessionalisasi

Secara garis besar, untuk menyatukan perbedaan antara kelompok dan memelihara hubungan politik bersama dalam sebuah negara, seluruh identitas keyakinan simbol-simbol kelompok harus bisa ditinggalkan untuk sementara waktu dalam rangka mencapai suatu kesatuan dan kebersamaan yang lebih besar (Grms, 2008).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perdekatan politis De konfessionalisasi adalah pendekatan/usaha dengan meningglakan seluruh identitas keyakinan yang berupa simbol dalam sementara waktu untuk menyatukan perbedaan antar kelompok dan memelihara hubungan politik besama dalam sebuah negara agar tercapai suatu kesatuan dan keberdsamaan yang lebih besar.

Pancasila sebagai ideologi yang digunakan Bangsa Indonesia untuk menjadikan bernegara (Nieuwenhujze, 1958), dari situ bukan berarti Islam kalah dengan pancasila tetapi di dalam pancasila tersimpan nilai-nilai Islam yaitu keesaan Tuhan, demokrasi, keadilan sosial dan kemanusiaan.

b.      Pendekatan politis domestikasi Islam

Teori ini menggambarkan hebatnya Islam berkembang di Indonesia tetapi lumpuh karena didominasi kekuatan lokal. Menurut Harry J. Benda dalam Daniel Dokhada, berpandangan bahwa bangkitnya Mataram Islam sebenarnya adalah kekuatan Hindu Jawa bukanlah Islam itu sendiri.

c.       Pendekatan politik skismatik aliran

Teori ini dikembangkan oleh Robert Jay dan Clifford Goerta. Pendekatan skismatik memberikan gambaran tentang adanya realitas kelompok aliran dalam kehidupan sosial, budaya dan politik serta agama dalam masyarakat jawa (Yudiwah, 2011).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, kekuatan diluar Islam yang senantiasa menyaingi bahkan menjinakan yaitu kelompok abangan dan priayi.

d.      Pendekatan politik trikotomi

Pendekatan ini dikembangkan Allan Samson dalam aliran ini menjelaskan karakteristik Islam tidak dapat dilihat secara tanggal seperti santri yaitu mereka yang tetap mempertahankankan Islam sebagai baris dan norma dalam berpolitiknya. Politik santri dibagi menjadi tiga, yaitu:

- Fundamentalis, yaitu menetapkan agama dalam aspek kehidupan, termasuk bernegara.

- Reformis, yaitu menempatkan secara rasional posisi Islam dalam kehidupan politik termasuk membanguin relasi bagi penerapan kepentingan Islam.

- Akomodisionis, yaitu kelompok santri yang lebih terbuka walau sepintas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Dari metode gerakan tersebut merupakan langkah terpenting sebagai jalan berfikir/alat negosiasi dalam politik.

e.       Pendekatan politik kultural/diversifikasi

Menurut Emmerson (1987), Islam dalam skala kebudayaan memiliki kemenangan yang hebat di Indonesia. Teori ini mengarahkan kembali energi politik umat Islam ke dalam kegiatan non politik. Islam kultural akan memunculkan Islam yang lebih simpatik dan subtantif (Grms, 2008).

Dari penjelasan di atas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kultural menjelaskan islam sebagai kekuatan budaya yang berhasil dalam menakhlukan kekuatan politik.


9.      Pendekatan Psikologi

Psikologi berasal dari Bahasa Yunani ”psych” yang berarti jiwa dan ”logis” yang berarti ilmu. Psikologi adalah ilmu  yang mempelajari jiwa(Wundt, 1879). Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memahami agama dengan mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapaat diamati. Dalam Islam banyak sekali pengambaran batin. Seperti iman, taqwa kepada Allah. Perilaku seseorang dapat dilihat dari sesuatu yang dia yakini.

Dengan psikologi, akan diketahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan serta sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang.

10.  Pendekatan interdisipliner

Pendekatan interdisipliner adalah adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan sejumlah pendekatan/sudut pandang dalam studi, misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan normatis secara bersamaan (Uicha, 2011).

Dari pendapat tersebut, pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan karena dalam teori interdisipliner sangat penting dibanding hanya satu pendekatan saja.

Contoh interdisipliner adalah seperti aborsi, perlu dilacak nash Al Quran dan Sunnah Nabi tentang larangan pembunuhan anak, dan tahap penciptaan manusia dihubungkan teori embriologi.

Dari pendekatan interdisiplner akan memunculkan beberapa pendekatan baru dengan catatan:

a. Perkembangan ilmu pengetahuan

b.  Adanya penekanan terhadap bidang pendekatan tertentu, dimaksudkan agar mampu memahami ajaran Islam lebih lengkap.

Dengan pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan studi Islam yang lain, sebagian besar dipengaruhi studi kawasan. Misalnya:

- Sastra Islam dan arkeologi

- Linguistik (bahasa)

- Sastra (literature)

- Ekonomi

- Ilmiah

- Doktriner

- Filologi (cinta terhadap kata-kata)

- Semiotika (makna benda/lambang)

- Mistis

- Dll

Perkembangan Pendekatan dalam memahami Islam adalah suatu yang wajar. Sebab bila tidak, agama tidak akan mendapatkan perhatian.


C.    Analisis

Dari sepenggal pembahasan di atas, dapat kita ketahui begitu pentinggnya pendekatan dalam metodologi studi Islam melalui beberapa aspek-aspek, metode-metode, yang mampu berkembang dalam kemajuan ilmu pengetahuan pada zaman modern. Dalam hal ini umat islam harus bisa melakukan gerakan pemikiran untuk mengantisipasi perkembangan dan kemajuan studi Islam.

Di sinilah pentingnya menggali ajaran Islam untuk mewujudkan suatu kedamaian, dan kesejahteraan suatu masyarakat dalam berbangsa, dan bernegara


PENDEKATAN STUDI ISLAM (PART 1)

 A.    Pengertian Pendekatan Studi Islam

Pendekatan adalah suatu cara kerja untuk memudahkan pendidik/warga belajar agar peserta didik atau warga belajar ingin belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama (Uicha, 2011).

Pendekatan studi Islam adalah suatu cara kerja untuk memudahkan seseorang mengetahui dan mendalami Islam secara luas dan menyeluruh agar tidak muncul pola fikir yang dangkal.


B.     Beberapa Pendekatan Studi Islam

Adapun pendekatan studi Islam, antara lain:

1.      Pendekatan normatif

Normatif adalah peraturan yang mengatur tentang baik buruknya perbuatan berdasarkan norma yang berlaku. Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Menurut Lubis (2011) Pendekatan normatif adalah sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek norma-norma dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah.

Pendekatan normatif diklasifikasikan menjadi tiga:

a.       Missionaris tradisional

Yaitu pendekatan yang bertujuan merubah suatu masyarakat agar masuk agama tertentu diserta penyakinan akan pentingnya peradaban missionaris, seperti yang dilakukan oleh Belanda dengan menjajah Indonesia, mereka tidak hanya meyakinkan betapa kuatnya perabadaban yang mereka miliki, tetapi juga menyebarkan agamanya yaitu Agama Kristen.

b.      Apologetik

Pendekatan yang bertujuan untuk menguatkan keimanan suatu kaum yang terlindas arus modernitas agar bangkit dan percaya diri dengan identitas keislamannya.

c.       Irenic

Pendekatan yang dilakukan untuk menyatukan non muslim yang berorientasi negatif tentang orang muslim, dengan Muslim yang berorientasi menyimpang. Supaya tercapai perdamaian bangsa dan hilangnya prasangka, perlawanan dan saling menghina.


2.      Pendekatan Antropologis

Antropologi berasal dari Bahasa Yunani ”anthropos” artinya manusia/orang, dan ”logos” yang berarti wacana.

Menurut ilmutuhan.com (2011), antropolgi adalah ilmu yang membahas tentang manusia, khususnya tentang asal usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaan masa lampau.

Antropologis adalah adalah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia terdiri dari aspek fisik dan non fisik dan berbagai pengetahuan tentang kehidupan lainnya yang bermanfaat.

Pendekatan antropologis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Kajian antropologi dibagi empat, yaitu:

a.    Intelektualisme,

 yaitu mempelajari agama dari sudut pandang intelektual yang mencoba melihat definisi agama dalam setiap masyarakat, kemudian melihat perkembangannya (religius development) dalam suatu masyarakat. E.B. Taylor mengemukakan bahwa agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supernatural.

b.    Strukturalis

c.    Fungsionalis

d.   Simbolis

Ketiga teori ini dikembangkan Emile Durkheim, mengilhami banyak orang dalam melihat agama dari sisi yang sangat sederhana sekaligus menggabungkannya secara struktur.

Objek antropologi agama ada empat, yaitu:

a. Modus pemikiran primitif,

b.Komunikasi, seperti simbol dan mite,

c. Teori dan praktik keagamaan,

d. Praktik ritual sampingan seperti magic.

Sedangkan aliran antropologi agama terdiri dari:

a. Aliran fungsional

Penelitian Brosnilaw Kacper Malinowski bertujuan mengetahui titik pandang pemikiran masayarakat sederhana dan hubungannya dengan kehidupan serta mengatakan pandangan-pandangan mereka tentang dunia.

b. Aliran historis

EE Evans Pritchard dalam penelitiannya mengatkan bahwa aliran historis adalah membandingkan struktur masyarakat dan kebudayaan yang berbeda.


c. Aliran struktural

Claude Levi Strauss mengemukakan bahwa bahasa dan mite menggambaerkan kaitan antara alam dengan budaya dan hubungan antara alam dan budaya itu ditemukan hukum-hukum pemikiran masyarakat yang diteliti.

3.      Pendekatan Sosiologis

Sosiologi berasal dari Bahasa Latin ”socius” artinya teman/kawan, dan ”logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Sosiologi juga dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Menurut Bapak Sosiologi Indonesia yaitu Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari strukrtur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yakni mengandung cara-cara bertindak, berfikir, berperasaan yang berada di luar individu (Durkheim, 1970). Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian (Soekarno, 2006).

Pendekatan sosiologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya agar pola fikir berkembang dan akan mengalami evolusi yang menyebabkan perubahan sosial masyarakat baru dan akan tercipta tingkat integrasi lebih besar.

Agama lebih memperhatikan bidang sosial (Rahmat, 2006), hal ini dapat kita lihat jelas di dalam Al Quran dan Hadist bahawa perbandingan ayat ibadah dengan muamalah (masalah sosial) adalah 1:100, dan sholat berjamaah lebih baik dari pada sendiri (1:27).

4.      Pendekatan Teologis

Teologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan tentang hakekat Tuhan serta keberadaanya.

Teologi berasal dari Bahasa Yunani, ”Theos” yang berarti Allah (Tuhan) dan ”logis” yang artinya ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama atau ilmu yang mempelajari tentang Tuhan.

Teologi adalah pembahasan materi tentang eksistensi Tuhan dan tuhan-tuhan dalam dalam sebuah konsep nilai-nilai ketuhanan yang terkontruksi dengan baik sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama/aliran kepercayaan.

Pendekatan teologis dibagi menjadi tiga:

a.       Teologi Normatif/Apologis

Pendekatan Teologi Normatif adalah sebuah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang menimbulkan keyakinan bahwa agama yang dianutnya dianggap paling benar dibandingkan yang lain.

b.      Teologi Dialogis

Pendekatan Teologi Dialogis adalah mengkaji agama tertentu dengan menggunakan perspektif agama lain. Teologi ini bertolak dari perspektif teologi kristen. Bahkan banyak digunakan orientalis dalam mengkaji Islam.

c.       Teologi Konvergensi

Pendekatan Teologi Konvergensi adalah metode pendekatan terhadap agama dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama/aliran, untuk mempersatukan unsur esensial dalam agama-agama sehingga tidak nampak perbedaan yang esensial.

5.      Pendekatan fenomenologis

Fenomenologi adalah sebuah studi Islam dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama (Dhavamony, 1995). Tokoh fenomenologi adalah Edmund Hussert dan Alfred Schulta, mereka mengungkapkan bahwa ”Diam merupakan tindakan untuk mengungkapkan pengertian sesuatu yang sedang diteliti, dengan diam akan mengetahui perilaku orang lebih lanjut”.

Tujuan fenomenologi:

a. Menginterprestasikan suatu teks berkenaan dengan persoalan agama dengan setepat-tepatnya.

b. Merekonstruksi suatu kompleks tempat suci kuno/menerangkan permasalahan suatu cerita dari mitos.

c. Memahami struktur dan organisasi dari suatu kelompok masyarakat religius dengan  kehidupan sekitar.


DASAR TASAWUF

1. Ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepada Allah SWT dan hanya berharap kepada-Nya            dan berusaha mensucikan jiwa. (Q.S As-Sajdah:16)


            تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

            Artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada rabbnya             dengan penuh rasa takut dan harap serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami                        berikan.


2. Ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa bertawakal dan berserah         diri hanya keoada Allah SWT semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah SWT sebagai             tempat menggantungkan segala urusan. (QS. At-Thalaq:2-3)


3. Ayat yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia (QS. Assyura:20). Yang            artinya:

        “barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungn itu baginya,         dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia kami berikan kepadanya sebagian dari                        keuntungan dunia yang tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat”.


TUJUAN TASAWUF

Orang-orang Mutasowifin di dalam bertaqorub kepada Allah lewat karena ingin mencapai tujuan yang sekaky di harap-harapkan. Adapun tujuan mereka adalah:

  1. Ma’rifatbillah

Ma’rifatbillah adalah melihat tuhan dengan hati mereka secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatan kebesaran-Nya, tapi tidak dengan kaifiat artinya tuhan digambarkan seperti benda atau manusia ataupun yang lain dengan ketentuan bentuk dan rupa.

       2. Insan Kamil

Insan Kamil adalah manusia yang sempurna karena adanya realisasi wahdah asasi dengan tuhan yang mengakibatkan adanya sifat-sifat dan keutamaan tuhan padanya.

PENGERTIAN TASAWUF

Asal tasawuf di antaranya ialah:

  1. Berasal dari kata shoff yang artinya barisan, sebab para Shufi suka memilih shoff awal apabila sholat berjama’ah.
  2. Ada juga yang mengatakan dari kata shifah sebab orang-orang shufi senang membicarakan sifat-sifat Tuhan atau karena mereka berusaha merealisir sifat-sifat baik pada dirinya.
  3. Atau dari kata shoffa yang artinya bersih, karena mereka selalu berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji.


Adapun secara istilah ada beberapa pendapat tentang tasawuf, yaitu:

    1. Ma’aruf Al-Karokhi
        Tasawuf adalah mencari hakekat dan meninggalkan dari segala sesuatu yang ada pada tangan                 makhluk.


    2. Dr. Hamka
        Tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya dia mudah menuju                 kepada Tuhan.


Menurut Al-Junaid: definisi tasawuf kongkritnya adalah:

  1. Mengenal Allah, dalam kapasitas antar kamu dengan Allah tidak ada perantara dan tidak membutuhkan media lain ketika berkomunikasi dengan Allah kecuali dengan syariat-syariat yang telah ditentukan.
  2. Melakukan akhlak yang baik sebagaimana yang dilakukan oleh sunnah rasul serta menjauhi akhlak yang buruk.
  3. Mengikuti kehendak hawa nafsu sesuai dengan aturan Allah.
  4. Merasa dalam diri tidak memiliki siapapun kecuali hanya dimiliki Allah.


TOKOH EMANASI AL-FARABI (Part 2)

 Dalam filsafat Yunani, Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan penggerak pertama (Prime Cause), seperti yang dikemukakan Aristoteles. Sementara dalam Islam, Allah adalah Pencipta, yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada (Creito ex Nihilo). Emanasi dalam pemikiran Al-Farabi adalah Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul suatu maujud lain. Tuhan itu adalah Wujud Pertama dan dengan pemikiran itu timbul Wujud Kedua yang juga mempunya substansi. Itu disebut dengan Akal Pertama yang tak bersifat materi. Wujud Kedua ini berpikir tentang Wujud Pertama dan dari pemikiran inilah timbul Wujud Ketiga. Proses ini terus berlangsung hingga pada Wujud X/ Akal Kesepuluh. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama, mengandung dua segi. Pertama segi hakikatnya sendiri (tabi’at, wahiyya) yaitu wujud yang mumkin. Kedua segi lain yaitu wujudnya yang nyata yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai Dzat yang menjadikan. Sekalipun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi obyek pemikirannya.

            Dengan adanya segi-segi ini, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari Akal Pertama. Dari pemikiran Akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib (yang nyata) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya maka keluarlah Akal Kedua. Dari pemikiran Akal Pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, timbullah langit pertama atau benda lanjut terjauh (as-sama al-ula; al­al-a’la) dengan jiwanya sama sekali jiwa langit tersebut. Jadi dari dua obyek pengetahuan yaitu dirinya dan wujudnya yang mumkin keluarlah dua macam makhluk tersebut yaitu bendanya benda langit dan jiwanya Dari Akal Kedua timbullah Akal Ketiga dan langit kedua atau bintang-bintang tetap (al-kawakib ats-tsabitah) beserta jiwa dengan cara yang sama seperti yang terjadi pada Akal Pertama. Dari Akal Ketiga keluarlah Akal Keempat dan planet Satumus (Zuhal), juga beserta jiwanya. Dari Akal Keempat keluarlah Akal Kelima dan planet Yupiter (al-Musytara) beserta jiwanya. Dari Akal Kelima keluarlah Akal Keenam dan planet Mars (Madiah) beserta jiwanya. Dari Akal Keenam keluarlah Akal Ketujuh dan matahari (as-Syams) beserta jiwanya. Dari Akal Ketujuh keluarlah Akal Kedelapan dan planet Venus. (az-Zuharah) juga beserta jiwanya. Dari Akal Kedelapan keluarlah Akal Kesembilan dan planet Mercurius (‘Utarid) beserta jiwanya pula. Dari Akal Kesembilan keluarlah Akal Kesepuluh dan bulan (Qamar). Dengan demikian maka dari satu akal keluarlah satu akal dan satu planet beserta jiwanya. Dari Akal Kesepuluh sesuai dengan dua seginya yaitu wajibul-wujud karena Tuhan maka keluarlah manusia beserta jiwanya. Dan dari segi dirinya yang merupakan wujud yang mumkin, maka keluarlah empat unsur dengan perantaraan benda-benda langit. Dan di akal ke X ini dayanya sudah lemah sehingga sudah tidak bisa menghasilkan akal yang sejenisnya.

            Mengapa jumlah akal dalam teori emanasi dibatasi kepada bilangan sepuluh? Hal ini disesuaikan dengan bintang yang berjumlah sembilan di mana untuk tiap-tiap ­akal diperlukan satu planet pula, kecuali akal pertama yang tidak disertai satu planet ketika keluar dari Tuhan. Stuktur Emanasi Al Farabi saat itu dipengaruhi oleh temuan saintis yang pada saat itu jumlah bintang adalah sembilan, karena jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh. Kemudian al-Farabi menambah dua lagi yaitu benda yang terjauh (al-falak al-aqsha) dan bintang-bintang tetap (al-kawakib ats-tsabitah), yang diambil dari Ptolomey (atau Caldius Ptolomaeus) seorang ahli astronomi dan ahli bumi Mesir, yang hidup pada pertengahan abad ke-2 Masehi. Sebab itu, maka jumlah akal ada sepuluh, sembilan diantaranya mengurus benda-benda langit yang sembilan, dan akal kesepuluh yaitu Bulan mengawasi dan mengurangi kehidupan di bumi. Akal-akal tidak berbeda, tetapi merupakan pikiran selamanya. Kalau pada Tuhan yaitu wujud yang pertama, hanya terdapat satu obyek pemikiran yaitu Dzat-Nya, maka pada akal-akal tersebut terdapat dua obyek pemikiran, yaitu Dzat yang wajibul-wujud dan diri akal-akal itu sendiri. Al Farabi melalui ajaran teori emansi ini memecahakan masalah gerak dan perubahan. Beliau menggunakan teori ini pula ketika memecahakan masalah Yang Esa dan yang banyak dan dalam memadukan teori materi Aristoteles dengan ajaran Islam tentang penciptaan.

            Materi itu tua, setua teori akal sepuluh, tetapi ia tercipta karena ia memancar dari akal agen. Untuk mengukuhkan ke-Esaan Tuhan, Al Farabi memilih menengahi akal sepuluh ini antara Tuhan dan dunia bumi. Beberapa unsur teori emansi dapat dilacak pada sumber asal mereka yang berbeda-beda. Aspek astronominya identik sekali dengan penafsiran Aristoteles tentang gerak lingkungan. Teori pemancaran diperoleh dari Plotinus dan aliran Alexandria, tetapi secara keseluruhan hal itu merupakan suatu teori Al Farabi yang ditulis dan diformulasikan untuk menunjukkan kesatuan kebenaran dan metodenya tentang pengelompokan dan sintesis. Demikianlah Al Farabi memadukan Plato, Aristoteles, filsafat, dan agama. Sungguh sumbangsih yang luar biasa dan tak ternilai harganya.

TEORI EMANASI AL-FARABI (Part 1)

            Tak dapat disangkal, dalam konteks Filsafat Islam, tema mengenai emanasi menjadi salah satu tema yang paling menarik dan ramai dibahas. Emanasi berkaitan dengan bahasan penciptaan. Bahwa penciptaan alam semesta ini tiada lain merupakan pancaran dari Yang Satu. Memang, bahasan tentang penciptaan sejak mula memantik banyak pandangan. Keragaman pandangan tersebut dimulai dari pertanyaan: apakah alam semesta ada karena memang ada dengan sendirinya, ataukah alam semesta ada karena diadakan. Pertanyaan pun berlanjut pada: kalaulah alam semesta ada karena diadakan, bagaimana proses penciptaan alam semesta itu sendiri. Dan teori emanasi termasuk teori yang muncul oleh pertanyaan menarik tersebut.

Perkembangan Aliran Filsafat Peripatetik.

             Filsafat Islam dimulai secara resmi di abad ke-2-3 H. bersamaan dengan penerjemahan karya-karya pemikir Yunani kuno. filosof muslim pertama, Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Asha’ath bin Kays Al-Kindi (185-260 H) di Kufah.[3] ayahnya menjabat gubernur di Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid. Al-kindi sendiri mengalami masa pemerintahan lima khalifah dari Bani Abbasiyyah yakni Al-Amin, Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, Al-Wasiq dan Al-Mutawakkil. Al-Kindi belajar membaca Al-Qur’an, menulis dan menghitung di kota Basrah. Al-Kindi mempelajari filsafat dengan cara meringkas dan menafsirkan buku-buku Aristoteles yang telah terjemahan dan mencatat dari para pakar filsafat pada masanya.

Ciri Khas Aliran Peripatetik

Filsafat peripatetik merupakan salah satu aliran dalam filsafat Islam yang memiliki ciri khas dari berbagai sudut pandang diantaranya dari sudut pandang metodologi dan epistimologinya,[2] filsafat peripatetik bersifat diskursif, menggunakan kemampuan akal dalam proses penalarannya. Bersifat tak langsung, dalam menangkap objeknya para mereka tak langsung menggunakan penalaran akalnya tetapi menggunakan simbol, baik berupa kata-kata ataupun tanda-tanda yang lainnya. Penekanan yang sangat kuat dari rasio-rasio sehingga kurang mengutamakan peran intuitif, dari sudut pandang ontologisnya filsafat peripatetik mengatakan bahwa ada dua unsur di dunia ini, materi dan bentuk.

Filsafat Peripatetik

 Peripatetik berasal dari bahasa Yunani yaitu peripatein, yang berarti berjalan-jalan, berkeliling. metode pengajaran peripatetik telah dilakukan oleh pencetus filsafat peripatetik yaitu Aristoteles, dengan cara mengelilingi murid-muridnya di saat memberikan pelajaran. peripatetik juga biasa disebut dengan istilah masysya’iyyah. Kata ini berasal dari akar kata masya-yamsy-masyyan wa timsya’an, yang berarti melangkahkan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain, cepat atau lambat. tersusun kata al-masysya’un, yaitu para pengikut Aristoteles.

 

            Di tangan para filosof muslim, peripatetik mengalami perluasan objek pembahasan, tidak terbatas hanya pada Aristotelianisme. Peripatetik (masysya’iyyah) merupakan sintesa antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme dan Platonisme, baik Alexandrian maupun Athenian, juga ajaran-ajaran Plotinus dengan perpaduan wahyu Islam. peran filsuf muslim adalah memasukan warna Islam kedalamnya sehingga selaras dengan ajaran Islam yang berdasarkan wahyu diturunkan kepada Rasul-Nya.

Adab

 Adab atau akhlak adalah bagian yang sangat penting dalam Kehidupan termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang warga Negara Indonesia pastilah mengenal Sila kedua dari Pancasila yang menyatakan bahwa konsep kemanusiaan bangsa Indonesia didasarkan kepada dua Pilar yang sangat penting adil dan beradab. Sayangnya di saat ini, membicarakan etika, norma, dan akhlak dalam urusan politik tampaknya seperti mengada-ada. Tidak ada ruang sedikitpun untuk membicarakan etika dan sopan santun kalau sudah masuk ke ranah politik Sampai batas-batas tertentu, berpolitik bahkan menjelma menjadi seni menemukan cara-cara licik untuk menggapai kekuasaan. Seolah ada keyakinan bahwa orang yang berakhlak tak akan sukses menggapai tujuan- tujuan politis. Absurd bukan? Padahal, justru ajaran Pancasila mengamanatkan setiap anak bangsa untuk memperhatikan etika dalam segala bidang kehidupan. Dari Sisi Iain, bangsa Indonesia adalah orang-orang yang beragama. Sementara itu, setiap agama pastilah memiliki tiga Pilar ini: dogma (aqidah), ritus (fiqih), dan norma (akhlaq). Ketiganya menjadi kaki-kaki dari limas segitiga bangunan agama. Pengabaian salah satunya akan meruntuhkan bangunan agama secara keseluruhan. Islam jelas sekali menempatkan akhlak pada kedudukan yang sangat primer. Al-Ouran mengatakan bahwa shalat yang dilakukan Oleh seseorang justru akan menyeretnya ke jurang neraka (فويل للمصلين ), jika shalatnya tersebut tidak didasari niat yang baik; yaitu jika shalatnya ditempatkan sebagai prioritas yang kesekian (الذين هم عن صلاتهم ساهون ), dan jika shalatnya dilakukan dalam rangka memikat perhatian manusia ( الذين هم يرائون ).

19 Maret 2015

HELLO WORLD

I'm Ghifari Zakawali..

Seorang pemuda yang lahir di Jakarta, tinggal di Jakarta, dan bekerja di yayasan swasta di Jakarta. Sempat meninggalkan kota Jakarta selama satu tahun untuk merantau ke kota orang, yaitu Cikarang. Gak jauh sih, tapi ya banyak banget pelajaran yang gua dapetin di sana.

Gua sekolah jurusan teknik komputer dan jaringan, dan sekarang juga kuliah jurusan teknik komputer. FYI gua itu kuliah sambil bekerja biar ga berat-beratin orang tua.

Oke itu aja dari gua, kalo mau tanya lebih lanjut silahkan aja hubungi gua via dm di instagram gua di sini -> INSTAGRAM atau bisa email gua di ghifarizkwl97@gmail.com  ..

Terima Kasih, semoga bisa bermanfaat buat kalian semua. ;)