Al-kindi
sangat tertarik membahas hubungan antara agama dan filsafat. Dan berpendapat
bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan
tinggi martabatnya. Dan agama merupakan ilmu mengenai kebenaran. keduanya
memiliki perbedaan mengenai hakikat tuhan. Al-Kindi juga berjasa menciptakan
terminologi filsafat Arab. Yang segera menjadi satu mesin yang kuat bagi
filsafat Islam. Salah satu pencapaian besar Al-Kindi adalah menjadikan bahasa
Arab sebagai sarana ekspresi filsafat. Fi al-falasafah al-‘ula dan pionir dalam
menciptakan kamus filsafat Arab dan Bapak Filsafat Islam. Al-kindi mengarang
buku-buku kurang lebih berjumlah 241 buku dalam Bidang Filsafat, Logika,
Aritmatika, Astronomi, Kedokteran, Ilmu Jiwa, Politik, Optik, Musik, Matematika
dan sebagainya. Al-kindi tidak mempunyai sistem filsafat yang lengkap. Jasanya
adalah karena dia adalah orang yang pertama-tama membuka pintu filsafat bagi
dunia Arab. Murid langsung Al-kindi sebagian besar adalah ilmuan, selanjutnya
dalam filsafat awal masysya’i tidak muncul lagi, sampai satu generasi kemudian
baru muncul di Khurasan.
Abu
Nasr Muhamad Bin Muhamad Bin Tarkhan Bin Uzalah Al-Farabi. Lahir di kota farab
pada tahun 257 H/870 M. Ayahnya seorang perwira tentara Turkestan.[4]
pendidikan awal Al-Farabi belajar Al-Qur’an, tata bahasa, kesusastraan,
ilmu-ilmu agama dan aritmatika dasar. Ia pernah tinggal di Baghdad, Harran,
Aleppo, Mesir, Damaskus. Buku Karyanya kurang lebih 70 buah buku. ia belajar
filsafat dari Yuhana bin Jilad seorang filsuf kristen Al-Farabi dikenal sebagai
“guru kedua” setelah aristoteles. Al-Farabi adalah filosof pertama yang
mengonsep filsafat islam. Al-farabi selama hidupnya berusaha untuk
mengharmonisasikan ide-ide Plato dan Aristoteles. Al-Farabi tertarik pada
kehidupan sepiritual sejak muda dan mempraktikan sufi. Ia adalah sorang ahli
musik sekaligus komposer. Pakar logika yang memberi komentar terhadap semua
karya Aristoteles, pendiri filsafat politik. Ia sebagaimana mayoritas pemikir
muslim lainnya. Al-Farabi termasuk penggegas filsafat peripatetik yang pada
akhirnya berhadap-hadapan dengan Irfani Syekh Maqtul Suhrawardi.
Abu
Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina yang bergelar “Asy-Syaikhur
Ra’iis” (pemimpin para syekh). lahir pada tahun 370 H/980 M,[5] di Afsyanah,
kota Bukhara wilayah Republik Uzbekistan, salah satu filsuf yang menggabungkan
pemikiran-pemikiran Yunani. Dengan kejeniusannya Ibnu Sina mampu menuangkan
ide-idenya kedalam tulisan-tulisan filsafat. Ia juga berhasil mendidik muridnya
Bahmaniyar menjadi salah satu pemikir berbakat dalam filsafat peripatetik.
Filsafat
peripatetik atau masysya’i mencapai puncaknya bersama Ibnu Sina atau merupakan
filosof muslim paling berpengaruh, Tokoh intelektual, filosof dan ahli fisika
terkenal pada periode abad pertengahan. Dalam sebagian besar hidupnya ia
mengembara pelbagai kota Khawarizm ke Khurasan ke Jurjan ke Rayy ke Isfahan ke
Hamadan. Meskipun dalam kehidupan kacau yang tampak dari kondisi yang tidak
tentram di Persia, Ibnu Sina menyusun lebih dari 200 karya, termasuk yang
monumental adalah kitab al-syifa’, yang merupakan sebuah ensiklopedia filsafat
dan ilmu-ilmu peripatetik.[6] Ia juga menulis al-qanun fi al-thibb yang
merupakan karya paling terkenal dalam sejarah pengobatan. Dengan Ibnu Sina para
Teolog dan Arif menjadi tertantang. Para Arif, yang menganggap argumentasi
falsafi bak tongkat kayu yang rapuh. mulai kasak-kusuk untuk menjauhkan
filsafat dari kaum muslimin. Mereka mengatakan bahwa jalan terdekat dan
satu-satunya cara untuk mengenal Al-Haq adalah dengan membersihkan hati dan
ibadah. Filsafat hanya akan membuat orang jauh dari jalan yang sebenarnya.
Disisi
lain, para Teolog juga tidak dapat menerima filsafat. Mereka berpendapat bahwa
apa yang diungkapkan para filosof muslim bertentangan dengan Al-Qur’an dan
Hadits, bahkan Islam menolak filsafat. Salah satu ahli Teolog yang menentang
keras adalah Abu Hamid Al-Gazali, meyakini bahwa ide-ide filsafat peripatetik
dan semua terjemahan pemikiran Yunani membuat agama menjadi kering. Penentangan
terhadap filsafat dan pembakaran buku-buku filsafat membuat filsafat islam
mengalami kemunduran. Hebatnya penentangan yang dilakukan oleh para Arif dan
Teolog membuat tidak ada lagi filosof yang muncul dari kawasan Timur dunia
Islam.
Ketika
filsafat mengalami kemunduran dikawasan Timur, muncul beberapa filosof
dikawasan Barat, mereka adalah Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd.
Ibnu Bajah atau Abu Bakar Muhamad Ibn
Yahya Al-Sha’igh atau Avempace dilahirkan di Saragosa, Andalusia pada abad
ke-11 M.[7] memiliki pengaruh besar pada Ibnu Rusyd dan Albert serta banyak
filsof Yahudi. Ibnu Bajah adalah seorang ahli fisika, astronom, sejarahwan,
musikus, dan filosof. Pernah menjadi wazir di Sargosa tapi ketika Sargosa jatuh
ketangan alfonso I, Ibnu Bajjah pindah ke kota Seviolle lewat Valencia dan
bekerja menjadi tabib, kemudian pergi ke Granada dan selanjutnya berangkat ke
Afrika Utara setelah itu berangkat ke Fez. Ketika di Fez ia diangkat sebagai
pejabat tertinggi selama 20 tahun, dan dikota inilah ia menghembushan nafas
terakhir pada bulan Ramadhan 533 H/ 1138 M. Menurut informasi dia meninggal
karena diracuni oleh Ibn Zhur seorang dokter termasyhur. Tapi karyanya tidak
lengkap dan banyak yang lenyap. karyanya tadbir al-mutawahhid yang membicarakan
usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebut
muwahhid yang berarti “penyendiri” isi risalah tersebut cukup jelas. Sehingga
memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha penyendiri tersebut
untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi
negeri idamannya.
Selanjutnya adalah Abu Bakar Muhammad bin
Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Tufail atau Ibnu Thufail (latin,
Abubacer) dilahirkan di Guadix dekat Granada pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan
ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusastraan, matematika dan filsafat. pernah menjadi
gubernur di Granada, mentri di Maroko dan dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf
Al-Mansur khalifah kedua dari Daulah Muahhidin.[8] Karyanya Hayy bin Yaqzan
(yang hidup putra yang bangun) yang
merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibnu Tufail. Pemikiran filsafatnya
sangat luas, termasuk metafisika. Dalam ma’rifatullah Ibnu Thufail menempatkan
akal dan syari’at. Pemikiran tersebut merupakan upaya yang tidak pada
tempatnya, sebab syari’at sumbernya adalah wahyu (dari tuhan) sedangkan akal
merupakan aktivitas manusiawi.
Selanjutnya, Abu Walid Muhammad Ibn Ahmad bin muhammad Ibn Rusyd atau Abu Al-Walid atau Averroes lahir di Cordova, (1126 M/520 H) Ia berasal dari keluarga ilmuan.[9] Ayah dan kakeknya adalah para pencinta ilmu dan merupakan ulama yang sangat disegani di Spanyol. Ayahnya adalah Ahmad Ibnu Muhammad (487-563 H) adalah seorang Faqih (ahli hukum islam) dan pernah menjadi hakim, dokter istana di Cordova. Ibnu Rusyd adalah tokoh fikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat pembelaanya terhadap akal dan filsafat. Dan senantiasa mengharmonisasikan antara filsafat dan agama. Dengan segala cara mereka pun memfitnah Ibnu Rusyd. Akhirnya Ibnu Rusyd diusir dari istana dan dipecat dari semua jabatnnya. Pada tahun 1195 ia diasingkan ke Lausanne, Buku-bukunya dibakar di depan umum, kecuali buku bidang kedokteran, matematika serta astronomi. Selain itu. Ia juga menulis buku Tahafut At-Tahafut untuk menjawab tulisan Al-Ghazali Tahafut Al-Falasifah. Ibnu Rusyd mengganggap bahwa kritikan Ghazali muncul terhadap filsafat karena Ibnu Sina tidak mampu menjelaskan filsafat sebagaimana yang dijelaskannya. Dengan itu, sebenarnya, bukan saja Ibnu Rusyd melakukan menjawab kritikan Ghazali tapi sekaligus mengkritik Ibnu Sina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar