UPDATE TERBARU!! : "Jaringan Nirkabel" (Lihat di Menu "Jaringan Komputer")

15 Juni 2015

Perkembangan Aliran Filsafat Peripatetik.

             Filsafat Islam dimulai secara resmi di abad ke-2-3 H. bersamaan dengan penerjemahan karya-karya pemikir Yunani kuno. filosof muslim pertama, Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Asha’ath bin Kays Al-Kindi (185-260 H) di Kufah.[3] ayahnya menjabat gubernur di Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid. Al-kindi sendiri mengalami masa pemerintahan lima khalifah dari Bani Abbasiyyah yakni Al-Amin, Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, Al-Wasiq dan Al-Mutawakkil. Al-Kindi belajar membaca Al-Qur’an, menulis dan menghitung di kota Basrah. Al-Kindi mempelajari filsafat dengan cara meringkas dan menafsirkan buku-buku Aristoteles yang telah terjemahan dan mencatat dari para pakar filsafat pada masanya.

 

            Al-kindi sangat tertarik membahas hubungan antara agama dan filsafat. Dan berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan tinggi martabatnya. Dan agama merupakan ilmu mengenai kebenaran. keduanya memiliki perbedaan mengenai hakikat tuhan. Al-Kindi juga berjasa menciptakan terminologi filsafat Arab. Yang segera menjadi satu mesin yang kuat bagi filsafat Islam. Salah satu pencapaian besar Al-Kindi adalah menjadikan bahasa Arab sebagai sarana ekspresi filsafat. Fi al-falasafah al-‘ula dan pionir dalam menciptakan kamus filsafat Arab dan Bapak Filsafat Islam. Al-kindi mengarang buku-buku kurang lebih berjumlah 241 buku dalam Bidang Filsafat, Logika, Aritmatika, Astronomi, Kedokteran, Ilmu Jiwa, Politik, Optik, Musik, Matematika dan sebagainya. Al-kindi tidak mempunyai sistem filsafat yang lengkap. Jasanya adalah karena dia adalah orang yang pertama-tama membuka pintu filsafat bagi dunia Arab. Murid langsung Al-kindi sebagian besar adalah ilmuan, selanjutnya dalam filsafat awal masysya’i tidak muncul lagi, sampai satu generasi kemudian baru muncul di Khurasan.

 

            Abu Nasr Muhamad Bin Muhamad Bin Tarkhan Bin Uzalah Al-Farabi. Lahir di kota farab pada tahun 257 H/870 M. Ayahnya seorang perwira tentara Turkestan.[4] pendidikan awal Al-Farabi belajar Al-Qur’an, tata bahasa, kesusastraan, ilmu-ilmu agama dan aritmatika dasar. Ia pernah tinggal di Baghdad, Harran, Aleppo, Mesir, Damaskus. Buku Karyanya kurang lebih 70 buah buku. ia belajar filsafat dari Yuhana bin Jilad seorang filsuf kristen Al-Farabi dikenal sebagai “guru kedua” setelah aristoteles. Al-Farabi adalah filosof pertama yang mengonsep filsafat islam. Al-farabi selama hidupnya berusaha untuk mengharmonisasikan ide-ide Plato dan Aristoteles. Al-Farabi tertarik pada kehidupan sepiritual sejak muda dan mempraktikan sufi. Ia adalah sorang ahli musik sekaligus komposer. Pakar logika yang memberi komentar terhadap semua karya Aristoteles, pendiri filsafat politik. Ia sebagaimana mayoritas pemikir muslim lainnya. Al-Farabi termasuk penggegas filsafat peripatetik yang pada akhirnya berhadap-hadapan dengan Irfani Syekh Maqtul Suhrawardi.

 

            Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina yang bergelar “Asy-Syaikhur Ra’iis” (pemimpin para syekh). lahir pada tahun 370 H/980 M,[5] di Afsyanah, kota Bukhara wilayah Republik Uzbekistan, salah satu filsuf yang menggabungkan pemikiran-pemikiran Yunani. Dengan kejeniusannya Ibnu Sina mampu menuangkan ide-idenya kedalam tulisan-tulisan filsafat. Ia juga berhasil mendidik muridnya Bahmaniyar menjadi salah satu pemikir berbakat dalam filsafat peripatetik.

 

            Filsafat peripatetik atau masysya’i mencapai puncaknya bersama Ibnu Sina atau merupakan filosof muslim paling berpengaruh, Tokoh intelektual, filosof dan ahli fisika terkenal pada periode abad pertengahan. Dalam sebagian besar hidupnya ia mengembara pelbagai kota Khawarizm ke Khurasan ke Jurjan ke Rayy ke Isfahan ke Hamadan. Meskipun dalam kehidupan kacau yang tampak dari kondisi yang tidak tentram di Persia, Ibnu Sina menyusun lebih dari 200 karya, termasuk yang monumental adalah kitab al-syifa’, yang merupakan sebuah ensiklopedia filsafat dan ilmu-ilmu peripatetik.[6] Ia juga menulis al-qanun fi al-thibb yang merupakan karya paling terkenal dalam sejarah pengobatan. Dengan Ibnu Sina para Teolog dan Arif menjadi tertantang. Para Arif, yang menganggap argumentasi falsafi bak tongkat kayu yang rapuh. mulai kasak-kusuk untuk menjauhkan filsafat dari kaum muslimin. Mereka mengatakan bahwa jalan terdekat dan satu-satunya cara untuk mengenal Al-Haq adalah dengan membersihkan hati dan ibadah. Filsafat hanya akan membuat orang jauh dari jalan yang sebenarnya.

 

            Disisi lain, para Teolog juga tidak dapat menerima filsafat. Mereka berpendapat bahwa apa yang diungkapkan para filosof muslim bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, bahkan Islam menolak filsafat. Salah satu ahli Teolog yang menentang keras adalah Abu Hamid Al-Gazali, meyakini bahwa ide-ide filsafat peripatetik dan semua terjemahan pemikiran Yunani membuat agama menjadi kering. Penentangan terhadap filsafat dan pembakaran buku-buku filsafat membuat filsafat islam mengalami kemunduran. Hebatnya penentangan yang dilakukan oleh para Arif dan Teolog membuat tidak ada lagi filosof yang muncul dari kawasan Timur dunia Islam.

 

            Ketika filsafat mengalami kemunduran dikawasan Timur, muncul beberapa filosof dikawasan Barat, mereka adalah Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd.

Ibnu Bajah atau Abu Bakar Muhamad Ibn Yahya Al-Sha’igh atau Avempace dilahirkan di Saragosa, Andalusia pada abad ke-11 M.[7] memiliki pengaruh besar pada Ibnu Rusyd dan Albert serta banyak filsof Yahudi. Ibnu Bajah adalah seorang ahli fisika, astronom, sejarahwan, musikus, dan filosof. Pernah menjadi wazir di Sargosa tapi ketika Sargosa jatuh ketangan alfonso I, Ibnu Bajjah pindah ke kota Seviolle lewat Valencia dan bekerja menjadi tabib, kemudian pergi ke Granada dan selanjutnya berangkat ke Afrika Utara setelah itu berangkat ke Fez. Ketika di Fez ia diangkat sebagai pejabat tertinggi selama 20 tahun, dan dikota inilah ia menghembushan nafas terakhir pada bulan Ramadhan 533 H/ 1138 M. Menurut informasi dia meninggal karena diracuni oleh Ibn Zhur seorang dokter termasyhur. Tapi karyanya tidak lengkap dan banyak yang lenyap. karyanya tadbir al-mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebut muwahhid yang berarti “penyendiri” isi risalah tersebut cukup jelas. Sehingga memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idamannya.

Selanjutnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Tufail atau Ibnu Thufail (latin, Abubacer) dilahirkan di Guadix dekat Granada pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusastraan, matematika dan filsafat. pernah menjadi gubernur di Granada, mentri di Maroko dan dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf Al-Mansur khalifah kedua dari Daulah Muahhidin.[8] Karyanya Hayy bin Yaqzan (yang hidup putra yang bangun)  yang merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibnu Tufail. Pemikiran filsafatnya sangat luas, termasuk metafisika. Dalam ma’rifatullah Ibnu Thufail menempatkan akal dan syari’at. Pemikiran tersebut merupakan upaya yang tidak pada tempatnya, sebab syari’at sumbernya adalah wahyu (dari tuhan) sedangkan akal merupakan aktivitas manusiawi. 

 

            Selanjutnya, Abu Walid Muhammad Ibn Ahmad bin muhammad Ibn Rusyd atau Abu Al-Walid atau Averroes lahir di Cordova, (1126 M/520 H) Ia berasal dari keluarga ilmuan.[9] Ayah dan kakeknya adalah para pencinta ilmu dan merupakan ulama yang sangat disegani di Spanyol. Ayahnya adalah Ahmad Ibnu Muhammad (487-563 H) adalah seorang Faqih (ahli hukum islam) dan pernah menjadi hakim, dokter istana di Cordova. Ibnu Rusyd adalah tokoh fikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat pembelaanya terhadap akal dan filsafat. Dan senantiasa mengharmonisasikan antara filsafat dan agama. Dengan segala cara mereka pun memfitnah Ibnu Rusyd. Akhirnya Ibnu Rusyd diusir dari istana dan dipecat dari semua jabatnnya. Pada tahun 1195 ia diasingkan ke Lausanne, Buku-bukunya dibakar di depan umum, kecuali buku bidang kedokteran, matematika serta astronomi. Selain itu. Ia juga menulis buku Tahafut At-Tahafut untuk menjawab tulisan Al-Ghazali Tahafut Al-Falasifah. Ibnu Rusyd mengganggap bahwa kritikan Ghazali muncul terhadap filsafat karena Ibnu Sina tidak mampu menjelaskan filsafat sebagaimana yang dijelaskannya. Dengan itu, sebenarnya, bukan saja Ibnu Rusyd melakukan menjawab kritikan Ghazali tapi sekaligus mengkritik Ibnu Sina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar